Selasa, 13 September 2016

Melipir Sejenak Ke Kota Kembang

Hallooo guys...
Ini postingan pertama gue di blog, karena dari kemarin-kemarin yang nulis emang si Neng mulu (heuheuheu, partner yang malas). Dan berhubung kemarin gue baru jalan lagi dan masih anget di kepala. So, I think it's a good time to write!

Sabtu-Minggu kemarin, 6-7 Agustus 2016 gue dan si Neng jalan ke Bandung. Sebagai orang yang udah wara-wiri bawa bocah ke Bandung, sebetulnya gue nggak terlalu excited banget, nggak seperti ketika mau datang ke tempat baru (halaaahhh... sombong). Tapi, Bandung selalu menawarkan suasana yang berbeda kan? Dan to be honest, gue selalu suka Bandung. Ya suasananya, ya tempat-tempat wisatanya, ya tempat belanjanya, ya jajanannya, ya tempat nongkrongnya, ya cewek-ceweknya (kemudian gue digaplok sama si Neng). Dan kebetulan juga, trip kali ini kita nyoba pakai kereta (yeah, gue emang norak, nggak pernah naik kereta jarak jauh). Jadi gue pikir, ini bakal jadi pengalaman yang berbeda.

Gue dan rombongan (ada 2 orang lagi temennya si Neng yang ikut) stand by di Stasiun Gambir sekitar jam 4.40 pagi. Untuk yang belum pernah ke Bandung naik kereta (kayak gue), kereta yang melayani rute Jakarta-Bandung salah satunya adalah Argo Parahyangan. Buat dapetin keretanya nggak susah-susah amat kok (ya iyalaahhh si Neng udah book semuanya dari jauh-jauh hari, gue sih tinggal naik aja---partner jalan yang maunya terima beres). Keretanya juga nyaman, on time, dan bersih. Satu-satunya nilai minus buat gue cuma suara bising aja (karena kebetulan dapet gerbong yang dekat loko) dan toiletnya yang berbentuk toilet jongkok, sehingga posisinya agak kurang nyaman ketika mau buang air kecil (FYI, gue nggak pee sambil kayang). Selebihnya, OKE! AC adem, TV cuma ada dua di ujung setiap gerbong, pramugari kereta nggak selalu stand by memang, tapi lumayan sering melintas di dalam gerbong, jadi kalau kita butuh apa-apa nyarinya pun nggak terlalu lama. Dan yang terpenting menurut gue adalah passengers selama berangkat dan pulang, nggak ada yang sampai rusuh-rusuh gimana gitu (iya, rada sebel kalo naik angkutan umum terus ada yang rusuh gitu).

Muka norak waktu naik kereta

Karena nggak naik kendaraan pribadi, jadi untuk transportasi selama di Bandung si Neng memutuskan untuk nyewa motor. Jasa sewanya sendiri menurut gue sangat mengecewakan. Silakan baca review si Neng soal jasa sewa motor tersebut di sini. Tapi, ya sudah lah, lupakan. Jadikan pelajaran aja. Biar besok-besok bisa lebih selektif lagi kalau milih jasa sewa kendaraan.

Tempat yang kami datangi juga nggak banyak (agak melenceng dari perkiraan) karena jalanan macet banget, masalah teknis motor yang memotong waktu agak lumayan banyak, sampai perkiraan di tempat wisata yang niatnya cuma 1-2 jam, malah molor sampai 3 jam.

Tempat pertama yang kami datangi adalah Farm House. Tempat yang satu ini memang lagi nge-hits banget. Selain karena ada rumah Hobbit-nya yang jadi incaran orang untuk berfoto. Juga karena desain bangunan-bangunannya yang bergaya Eropa.

Gue sendiri memang suka arsitektur Eropa. Kekaguman gue tersebut pernah nyelip dikit di novel ROMA Con Amore yang gue tulis (promosi). Selain karena cara pengelola mengatur tata ruang Farm House yang nggak seberapa luas tapi tetap berasa nyaman. Juga fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya, yang menurut gue friendly untuk semua kalangan usia.

Harga tiket masuk Farm House Rp. 20.000/ orang. Tiket bisa ditukar dengan susu murni di outlet khusus yang ada di pintu masuk dan di bagian dalam Farm House. Gue dan rombongan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam di Farm House. Kebetulan hari itu Farm House rame banget. Banyak keluarga yang datang, juga ada beberapa rombongan gathering, jadi terasa sumpek. Ditambah para kawula muda yang memang sengaja datang untuk berburu foto dan berswafoto. Sehingga, sejauh mata memandang, yang terlihat adalah pose-pose syantik kekinian para kawula muda tersebut.

Oh ya, buat yang pengin ke Farm House. Tempat ini recommended banget buat keluarga. Selain soal arsitektur yang udah gue sebutin di atas. Farm House juga menawarkan keistimewaan seperti kita bisa berfoto dengan kostum ala Eropa (pakaian tradisional Belanda yang disewa dengan harga tertentu). Ada kandang hewan juga di bagian belakang. Anak-anak bisa memberi pakan hewan tersebut, atau foto bersama. Toko souvenir yang menjajakan barang-barang vintage ada di bagian tengah Farm House. Sejajar dengan berbagai macam kafe yang harganya juga nggak mahal. Dan banyak spot foto yang menarik.


CLBK = Cuma Lihat Beli Kagak


Foto bareng si Neng, biar kekinian

Selesai dari Farm House, kita berencana lanjut ke Tangkuban Parahu. Jarak tempuhnya sendiri kurang lebih hampir satu jam. Rencananya, mau sekalian mampir ke Cikole karena temennya si Neng belum pernah ke sana. Tapi, manusia berencana, Tuhan lah yang memutuskan kehendak. Sepeda motor yang kami sewa bermasalah di tengah perjalanan menuju Tangkuban Parahu. Khawatir bisa sampai nggak bisa pulang, kami memutuskan mengganti destinasi.

Ada beberapa alternatif yang bisa kami pilih. Mulai dari De Ranch, Rumah Bunga Rizal, Floating Market, dan Taman Bunga Begonia. Berhubung saat di Farm House tadi kami agak trauma sama keramaian. Jadi, kami putuskan untuk menengok dulu tempat yang mau didatangi sebelum masuk. De Ranch dan Rumah Bunga Rizal dicoret dari daftar pilihan karena ramainya agak sedikit tidak manusiawi (lebay). Jadi kami langsung pindah ke Floating Market sekalian makan, baru kalau ada waktu lanjut ke Taman Bunga Begonia.

Gue sendiri udah pernah ke Floating Market bareng teman-teman kantor tahun lalu. Tempatnya enak. Hawanya sejuk, tata ruangnya juga nyaman. Untuk makanan, sebetulnya standar street food yang ada di Bandung lah. Tapi kalau makannya sambil duduk di tepi waduk dan menikmati suasana yang asri, Floating Market layak jadi pilihan.

Fasilitas di Floating Market yang bisa dinikmati antara lain: perahu bebek, perahu dayung untuk 4 orang, perahu penyeberangan dan kereta perahu. Perahu-perahu tersebut bisa disewa dengan harga yang bervariatif. Mulai dari Rp. 2.000 hingga Rp. 35.000. Selain itu, ada tempat-tempat khusus juga seperti sawah/ ladang, kandang ternak, dan miniatur kereta yang konon adalah maket minatur kereta terbesar di Indonesia. Gue dan rombongan sendiri sempat naik perahu dayung dengan biaya sewa Rp. 70.000 untuk 4 orang.

Untuk masuk ke Floating Market, kita cukup merogoh kocek Rp. 20.000, sudah termasuk welcoming drink yang bisa diambil di counter-counter di dalam Floating Market. Jajanan di Pasar Apung tidak bisa dibeli dengan uang rupiah ya guys, melainkan dengan koin yang bisa kita beli di tempat penukaran. Saran gue, survey dulu makanan apa yang pengin kita beli. Karena koin yang sudah kita tukar tidak bisa diuangkan kembali. Floating Market juga bisa dijadikan pilihan tempat berlibur untuk keluarga. Jadi buat yang punya anak, jangan khawatir, tempatnya aman dan nyaman kok.

Menunggu senja di Floating Market

Momen kereta dayung (baca: denger para cewek teriak-teriak panik)

Selesai dari Floating Market, kami putuskan nggak lanjut kemana-mana karena hari sudah gelap. Kali ini gue nginap di Palagan Joglo Boutique House. Ini adalah pengalaman kali kedua menginap di sini, dan gue selalu suka suasana dan pelayanannya (baca juga review si Neng tentang Palagan Joglo di sini.

Selepas dari makan malam, gue dan rombongan pergi ke Bengkel Kopi untuk menghabiskan waktu malam sambil duduk-duduk santai. Tempat ini sudah diincar si Neng sebelumnya, dan kebetulan lokasinya dekat banget dari hotel. Cuma 5 menit naik motor. Sekilas tentang Bengkel Kopi bisa dibaca di sini guys. Untuk penikmat kopi, coffee shop ini cukup worthed. Hanya poin minusnya buat gue cuma satu, nggak ada space untuk non-smoking area, sehingga yang nggak ngerokok mungkin akan sedikit terganggu dengan asap rokok dari pengunjung-pengunjung lain. Selebihnya? Antik dan asik.
Coffee lovers 

Coffee, Anyone?

Di hari kedua, gue dan rombongan rencananya mau lanjut ke Kampung Daun atau Dusun Bambu. Tapi rencana tersebut juga harus kita tunda karena check out yang kesiangan ditambah mesti ngejar kereta pukul 11.00. Sebagai gantinya, gue dan si Neng putusin bawa teman-temannya si Neng ke Cihampelas.

Cihampelas ini memang selalu ramai di kala weekend. Dan serunya lagi, kalau telinga kita cukup awas untuk dengerin obrolan orang-orang di sekitar kita. Kita bakal tahu loh kalau yang datang ke sini benar-benar dari berbagai macam daerah. That what makes me love Bandung so much. Berasa di luar negeri gitu nggak sih? Bedanya, turisnya orang Indo semua yang logatnya beda-beda berdasarkan daerah asal mereka.

Di jalan Cihampelas ini, ada puluhan distro yang unik karena brand tokonya mengusung karakter-karakter dari komik dan film. Mulai dari Spiderman, Ultraman, Batman, dll. Selain itu, ada beberapa pusat oleh-oleh khas Bandung, juga toko souvenir dan penjual peyeum pinggir jalan.

Pukul sepuluh tepat, gue dan rombongan langsung cabut ke arah stasiun kereta. Dari Cihampelas, stasiunnya sendiri sudah dekat. Cuma sekitar sepuluh sampai lima belas menit dengan sepeda motor. Saran gue, pakai GPS atau Waze ya, karena kebanyakan jalanan menuju Stasiun KA Bandung ini dibuat satu arah.

Tips terakhir saat akan naik kereta adalah, sekarang PT KAI sudah memperketat aturan para pengguna jasa kereta api. Hindari membawa makanan dengan bau yang mencolok seperti durian dan tape (kejadian beneran sama temannya si Neng). Soal layanan, tadi gue udah cerita di atas. Dan sekarang, layanan publik ini juga nggak cuma diminati masyarakat pribumi doang loh. Waktu perjalanan pulang kemarin, di ruang tunggu Stasiun KA Bandung juga dipenuhi pelancong-pelancong dari berbagai negara, mulai dari bule sampai yang berwajah oriental. Mereka sibuk menggenggam passport dan boarding pass, sambil ngobrol dengan bahasa mereka masing-masing.

Perubahan pelayanan dan praktisnya sistem transportasi kereta api di Indonesia gue rasa sudah jadi langkah yang baik untuk memajukan pariwisata di Indonesia. Potensi negara kita ini keren banget kali. Sayang aja kalau masyarakat dunia nggak tahu, atau bahkan nggak mau datang ke Indonesia karena kurangnya pelayanan dan fasilitas yang ada. Di samping... kita yang jadi masyarakatnya juga mesti menunjukkan keramahan dan sikap yang baik ke mereka.

Well, cerita jalan-jalan gue sampai di sini dulu ya. Doain supaya gue nggak malas untuk ngisi blog ini dan bisa jadi partner yang rajin buat si Neng. Ci Vediamo!


---ROBIN WIJAYA---

Selasa, 09 Agustus 2016

[Review] : Serasa Ngopi di Bengkel, Euy...

 

Bengkel Kopi

Jl. Setiabudhi No.257, Isola, Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia 


Setelah ke beberapa tempat wisata dan capek hati sama masalah kendaraan (baca di sini). Di perjalanan pulang ke hotel, aku ga sengaja liat kafe ini di pinggir jalan Setiabudhi. Kebetulan letaknya ga terlalu jauh dari hotel (baca di sini). Tapi kalau jalan kaki berasa juga sih :D

Setelah bersih-bersih dan makan di seberang Terminal Ledeng, aku mampir ke kafe ini karena penasaran bagaimana interiornya dan juga menu yang disajikannya. Untungnya Ipal, Endang dan si Mamas suka kopi dan mau diajak nongkrong di sini.

Kalau di Jakarta biasanya kedai kopi pasti berada di ruko atau ruang tertutup, sekalipun ada ruang terbuka pasti menghadap ke jalan raya. Tapi Bengkel Kopi ini berkonsep terbuka di bagian belakangnya, seperti halaman belakang. Jadinya kita bisa ngopi sambil menikmati udara malam Bandung tanpa mendengar suara bising kendaraan.



meja kasir kafe ini. (Psst... Ada Ipal yang pengin masuk Blog :p)




Hiasan dinding di depan meja kasir


Ini baru depannya aja, lho.. gimana? udah sesuai dengan nama kafenya belum?

Kayak yang aku bilang tadi kan, semuanya sesuai dengan nama kafenya. Liat aja seragam pelayan Bengkel Kopi ini, udah kayak montir-montir gitu kan. Dengan warna biru yang menjadi dominan di kafe ini. Semua terlihat bagus dan ga bosen untuk lama-lama di sini.

Setelah mencari tempat duduk yang pas untuk kami berempat. Akhirnya kami memilih di sudut tempat ini. Dimana mejanya yang terbuat dari kayu dengan warna alami dan tingginya hanya sejajar dengan lutut kami. Ditambah dengan kursi yang terbuat dari ban bekas. Karena kursi di meja lainnya dominan terbuat dari tong yang disulap menjadi kursi.
  

Ga lama kemudian seorang pelayan wanita datang dan memberikan kami menu. Untuk harga kopinya ga terlalu mahal, kok. Rasanya juga lumayan enak. Di Bengkel Kopi ini juga ada menu makanannya lho, cuma aku ga pesan karena udah kenyang :D.



Dan inilah pesanan kami..
Kalau bingung dengan nama-nama di menunya bisa tanya pelayannya aja kok. Tapi kalau memang ragu, biasanya setiap kafe pasti memberikan tanda rekomendasi yang paling enak atau paling sering dipesan.

ini halaman belakang Bengkel Kopi

Ini meja-meja yang searah dengan meja yang aku tempati.



Mungkin karena pertama kali nongkrong di kafe daerah Bandung, aku langsung suka banget sama tempat ini. Sampe-sampe si Mamas juga bilang 'Orang Bandung kreatif ya' dan aku setuju dengan pernyataannya.


Kalau masih ada waktu dan kesempatan lagi, aku jadi mau coba beberapa tempat ngopi lainnya di Bandung. Semoga ya. Btw, Semoga cerita ini bermanfaat buat kalian yang mungkin kebetulan mau berkunjung ke daerah Lembang, Bandung.

---ISMA---

[Review] : Palagan Joglo Boutique House

Palagan Joglo Boutique House
Jalan Lembah Bajuri No. 7, Ledeng, Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Guest House yang ga terlalu jauh dari jalan raya ini bikin aku seneng untuk menginap kedua kalinya. Pertama kali menginap di sini bulan Desember tahun 2014 minggu pertama (inget banget yakan haha..). Waktu itu dapat info tempat ini dari temanku yang tinggal di Bandung. Katanya ada penginapan baru dan nyaman, yaitu Palagan Joglo. Waktu aku ga tau jalan di Bandung sama sekali dan belum ngerti gimana cara memesan kamar,  aku serahin semua ke temenku yang sudah biasa pesan kamar di Guest House/Hotel.

Kali ini aku kesana lagi di tahun 2016 dan nyoba untuk pesan secara langsung melalui telepon. Dengan harga Rp.350.000/kamar aku dapat kamar tipe Twin Bed dengan kipas angin. Karena cocok dengan harganya dan sudah pernah merasakan pelayanan di sana, akhirnya aku pesan dua kamar (1 dengan Twin bed, 1 Queen bed) jadi total biayanya Rp.700.000 (incl. sarapan pagi).


Apa aja sih fasilitasnya?



  • Free parking, bisa muat sekitar 6-10 mobil sepertinya. Untuk motor juga bisa kok, masuk ke garasi di balik tempat resepsionisnya. 
  • Staff-nya ramah banget!, sebelum berangkat aku WhatsApp pemiliknya untuk menanyakan soal titip bagasi. Eh, malah dibolehin untuk masuk ke kamar yang sudah kami pesan tanpa biaya tambahan. (padahal aku tiba di hotel jam 10 pagi dan ketentuan check-in sebenarnya jam 2 siang). Staff tersebut langsung mengantarkan kami menuju kamar dan memberitahukan kalau semuanya sudah siap.
    Meja Resepsionis
  • Handuk, Sabun, Shampo sudah ada di kursi depan tempat tidur. Ditambah terdapat meja kecil yang diatasnya sudah tersedia pemanas air, dua botol air mineral, dua cangkir serta kopi sachet, teh celup serta gula.
  • Kalau kamar mandi untuk Queen Bed pakai Bathtub, sedangkan Twin Bed dengan Shower (sayangnya di kamar mandi Twin Bed ga ada tirainya). Oya, ada air panasnya juga kok dua-duanya.











  • Sarapannya dapat nasi goreng. Tapi kalau pesan kamar ga termasuk sarapan, bisa makan roti (gratis) yang udah disediain di ruang makan kok, selain itu ada teh juga dan ada dispenser di sana untuk isi ulang minum.

  • Suasananya nyaman, tenang dan jauh dari keramaian. Lokasinya ga terlalu jauh dari jalan raya. Sayangnya pamflet Palagan Joglo ini sangat kecil dan gangnya terlalu dekat dengan jalan raya, dan harus hati-hati karena begitu masuk gang turunannya agak curam.
  • Untuk anak-anak gimana? Ga ada Play ground pastinya, tapi aman-aman aja kok kalau mau bawa anak-anak selama masih di bawah pengawasan.
  • Overall oke lah...









 Atau mau tau lengkapnya bisa buka di sini

 ---ISMA---

Senin, 08 Agustus 2016

[Review] : Sewa Motor di Bandung

Kalau ke Bandung naik mobil pribadi sih udah pernah, tapi kali ini aku mau coba ke Bandung naik kereta dari Stasiun Gambir dengan keberangkatan jam lima pagi.

Terus selama di Bandung naik apa, Ma?
Aku coba sewa motor untuk dua hari di sana. Karena kalau sewa mobil pasti budget nya lebih gede dan week end di Bandung bakal kena macet sana sini. Apalagi tujuanku itu ke daerah Lembang.

Setelah browsing jasa sewa motor di Bandung dan sudah baca beberapa review dari penggunanya, aku coba hubungin Naya Rental Motor Bandung. Begitu sudah deal dengan harga sewa dan jam pengantaran motor, tiba-tiba sekitar satu minggu sebelum keberangkatan si admin ini kasih kabar kalau banyak penyewa yang memperpanjang masa sewanya. Jadinya aku ga kebagian motornya deh.


Karena masih ada waktu seminggu, aku langsung menghubungi rental lainnya yang kontaknya diberikan oleh Naya Rental. Yaitu Sava Rental dan RifTrans. Sayangnya motor di Sava Rental pun udah juga ga tersedia lagi karena banyak penyewa yang memperpanjang masa sewanya.


Karena di Sava Rental aku ga dapet motor, jadilah pilihan terakhir di RifTrans. Sebenernya agak rugi sih dengan harga sewa yang ditawarkan rental, karena penyewaan ini hitungannya harian di akhir pekan, bukan 24 jam dari serah terima motor, ditambah untuk hari keduanya kan aku cuma sampai jam 11 siang di Bandung. Setelah penuh pertimbangan, akhirnya pilih unit motor Honda Beat FI dengan harga sewa untuk dua hari Rp.170.000 ditambah biaya antar dan jemput motor Rp.30.000, totalnya jadi Rp.200.000. Untuk mastiin supaya ga kehabisan motor lagi, aku kirim DP sebesar Rp. 50.000 ke RifTrans itu (karena si admin kasih aku saran untuk kirim DP supaya sama-sama mastiin).


Satu hari sebelum keberangkatan aku hubungi rental motor tersebut untuk memastikan dan menanyakan kembali soal jaminan yang menjadi syarat dalam penyewaan. Pokoknya selama pemesanan ga ada masalah deh, si admin juga cepat tanggapannya, walaupun waktu aku kirim konfirmasi pembayaran DP cuma di-read WhatsApp-nya.


Ketika kereta tiba di Stasiun Cimahi, aku langsung menghubungi rental untuk mengantar motor saat itu juga ke Stasiun Bandung, supaya jeda untuk nunggu kurir datang ga terlalu lama. Tapi nyatanya kurirnya sedang mengantar motor juga ke Dago.
Dan disinilah masalahnya dimulai. Sesampainya di stasiun, aku nunggu sekitar 20 menit di sana sampai akhirnya si kurir itu telepon dan ngasih tau kalau dia udah di parkiran pintu utara stasiun. Begitu di parkiran aku malah ga ngeliat ada motor Beat FI disana, cuma ada motor Vario Tecno dan Revo (Karena aku sewa 2 unit Honda Bear FI). Sebelum aku tanya, si kurir itu langsung ngejelasin kalau unit yang aku sewa udah dipake orang dan aku cuma kebagian Vario Tecno dan Revo. Aku ngerasa kecewa banget karena si admin dari RifTrans ini ga kasih tau sebelumnya kalau unit yang aku pesan lagi kosong.


Disaat transaksi si kurir meminta KTP dan ID lainnya sebagai jaminan. Setelah menyamakan identitas, aku cuma kasih kartu BPJS dan ID kantor. Begitu juga Ipal cuma kasih kartu NPWP dan ID kantor ke kurir. Salahnya, aku ga ngecek motornya dulu (jas hujan, stnk, plat dan lain-lain) malah langsung transaksi uang sewa ke kurir. Setelah itu si kurir kasih kami tanda terima, tapi di tanda terima itu atas nama Jasa Prima Rental (nah lho..) aku ga tau ini yang salah siapa, atau mungkin si RifTrans dan si Jasa Prima ini masih satu perusahaan, kah?



 Disaat yang bersamaan, si Ipal berinisiatif untuk test drive motor Revo nya di area parkir, tapi sayangnya bensinya kosong banget. Terus si Ipal ngeluh ke kurir kalau bensinnya habis. Si kurir dengan santai jawab "tenang aja, Kang, nanti di atas sana (arah Lembang) ada pom bensin kok setelah layang Pasupati". Makin-makin lah kecewa dan keselnya aku dan rombongan dengan si kurir dan rental ini. Bukan masalah adanya pom bensin sih, terus kenapa ini motor kosong malah disewain sih. Kan kita udah bayar sewa, seenggaknya ya jangan kosong-kosong amat lah.


Aku buka box motor Vario yang bakal aku kendarain. Aku cuma fokus ke jas hujan yang menurutku jas hujan bukan buat berkendara. Waktu perjanjian di WhatsApp si admin malah nyuruh aku bawa jas hujan sendiri, biar nyaman katanya. Aku ga mau dong, terus aku minta jas hujannya dua untuk satu motor dan jas hujannya itu yang atas-bawah atau memang untuk pengendara motor. Tapi nyatanya aku malah dapet jas hujan plastik dan itu cuma atasan doang. Saat itu juga aku berharap Bandung ga turun hujan selama aku di jalan.

Ga lama kemudian, ada dua orang datang lagi yang dimana mereka temannya si kurir dengan mengendarai motor yang berbeda, yaitu Revo dan Mio. Kemudian si kurir menawarkan untuk menukar motor Revo yang dipakai Ipal dengan Revo atau Mio yang baru aja tiba. si Ipal langsung deh test drive motor Revo yang baru datang itu (pikir Ipal kalau Mio pasti ga kuat nanjak). Kelebihannya cuma satu, bensinnya ada. Tapi mesin motornya agak ga enak untuk dikendarain dibanding Revo yang pertama. Akhirnya Ipal pilih motor Revo pertama dan kita pergi keluar stasiun tanpa ngecek kelengkapan surat kendaraan masing-masing. (sebagai pelajaran ya buat kalian kalau mau sewa motor harus cek dengan-amat-sangat-teliti. Jangan kelupaan sedikit pun kayak kami).
Kemudian kami mencari pom bensin untuk motor Revo yang dikendarain Ipal. Karena si Ipal ga ngecek kelengkapan surat kendaraan, jadinya setelah isi bensin dia baru sadar kalau motor itu ga ada STNK dan cuma ada SURAT TILANG di dalam jok motor. Buru-buru deh telepon kurir yang tadi untuk minta ganti unit dengan surat kelengkapan yang lengkap. Dan kita disuruh ke rentalnya buat tuker motor, padahal aku minta abangnya anter motor ke pom dimana lokasinya ga jauh dari tempat rental itu. Makin-makin kan keselnya kita malah dibikin ribet gini.





Tibanya di rental si Ipal cuma ditawari motor Revo yang mesinnya ga enak buat dikendarain (motor Revo yang kedua di test drive di stasiun). Karena ga ada pilihan akhirnya si Ipal mau deh pake motor Revo itu dan bensin yang sudah diisi di Revo pertama malah dipindahin sama kurir ke Revo yang akan dipake Ipal. Aku langsung WhatsApp si admin untuk mengajukan keluhan mengenai semuanya yang aku rasain, mulai dari pelayanan, kualitas dan lainnya yang menurutku ini ga sesuai dengan perjanjian.



Aku pikir motor yang akan disewakan ini adalah motor yang memang milik perusahaan alias bukan motor pribadi. Jadi aku sih mikirnya kalau motor perusahaan akan diperhatikan kebersihan motornya, mesinnya, helmnya dan juga surat-suratnya. Apalagi sampe dikasih motor sewaan yang udah kena tilang. Tanggal yang harus ditebus itu kan 22 Juli 2016 dan aku aja pake motornya tanggal 6 Agustus. Masa iya itu STNK nya ga bisa ditebus?!

Awalnya aku kira motor Vario yang aku sewa ga bermasalah dalam hal apa pun. Karena di saat menuju Farm House Lembang motornya ga bermasalah, cuma si Mamas yang ngendarain bilang kalau gas nya agak melambat pas di tanjakan. Setelah kelar mengunjungi Farm House kami berencana untuk ke Tangkuban Perahu, tapi sebelumnya aku mampir ke pom bensin untuk isi amunisi si Vario. Setelah isi, si Mamas, Ipal dan Endang ke toilet dan aku duduk di atas Vario sambil liat-liat plat motor ini. Aku kaget banget pas liat platnya, ternyata masa berlakunya sudah habis, yaitu bulan Juli tahun 2016. Refleks aku langsung ngecek STNK si Vario dan benar aja, masa berlakunya sampai dengan 14 Juli 2016.





Aku langsung mengirim foto di WhatsApp ke admin mengenai plat motor yang udah kadaluwarsa dan si admin malah 'menggampangkan' persoalan ini. Aku pribadi sih langsung mikir yang macem-macem, takut ditilang dan dicabut SIM lah atau duh (amit-amit) pikiran jelek lainnya. Aku dan lainnya kan ke Bandung berniat untuk jalan-jalan santai bukan dibebani dengan masalah yang kayak begini. Akhirnya aku nekad untuk melanjutkan perjalanan ke Tangkuban Perahu, tapi sayangnya disaat udah setengah jalan, motor Vario langsung melambat dan ga kuat naik lagi. Aku nyerah dan langsung kembali menuju tempat wisata lainnya untuk cari aman. Ya walaupun di jalan rada-rada takut juga, takut sama polisi dan takut mesin tiba-tiba mati.

Si admin malah nyuruh kami servis motornya ke bengkel Honda resmi dan katanya akan diganti uang untuk servis (full) dengan syarat kasih tau admin apa aja yang akan diservis. Bukan. Bukan itu masalahnya. Waktu kami terbatas cuma gara-gara motor yang disewa. Dan saat itu jam sudah menunjukan pukul 3 sore. (emang bengkel resmi honda masih buka ya jam segitu? hari sabtu pula). Yang seharusnya sudah kemana-mana, kami malah mikirin motornya kuat apa ga di jalan. Ya akhirnya kami pilih tempat wisata yang aksesnya aman-aman aja dan lebih lama di satu tempat untuk menghabiskan waktu. Damn! rugi banget. Tapi ya udahlah, namanya juga pertama kali sewa motor. Dan kalau ga begini aku juga ga dapet pelajaran kan untuk trip selanjutnya ke Bandung. Dan aku capek juga ngeluh ke admin dan menurutku ga bisa kasih solusi yang tepat.

Di hari keduanya, aku sudah hubungi admin supaya jemput di stasiun jam 11 siang dan bawa jaminan kami supaya ga makin ribet nantinya. Tapi sampai jam 11.10 pun kurir belum dateng. Untungnya aku tiba di stasiun sebelum jam 11, dan bener aja kan kalau si kurir ini ngaretnya setengah jam buat jemput motornya.

Hal yang kayak gini bener-bener jadi pelajaran buatku, buat si Mamas, Ipal dan Endang yang mungkin mau ke Bandung lagi pake jasa sewa motor. Semoga yang aku alami ga dialami kalian yang baca review ini. Bukan maksud menjelek-jelekan rental ini. Namun tujuan aku buat review ini supaya jadi bahan pertimbangan buat kalian yang mungkin mau ke Bandung dan mau sewa motor di sana. Hati-hati aja ya pokoknya. 


---ISMA---

Senin, 27 Juni 2016

Sampai Jumpa Kota Sejuta Rindu

08 Mei 2016

Di malam terakhir ini aku dan mama malah kebangun terus dan ga bisa lanjut tidur lagi sampai Subuh menjelang. Kebetulan listrik di sekitaran Sidokabul sedang padamdan mesin pembangkit listrik hotel sepertinya juga bermasalah, jadi kadang nyala dan padam terus menerus sampai langit terang.

Sambil menunggu taksi datang, kami menikmati secangkir teh yang disediakan hotel dan sekali memeriksa barang-barang yang takut tertinggal.

Sekitar jam 5.30 pagi, taksi pesanan kami datang dan dibantu petugas hotel, barang bawaan kami dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Sepanjang perjalanan menuju stasiun, aku nggak berenti tersenyum dengan kota ini, ternyata lebih kerasa tenang dan damai ketika pagi hari rupanya. Tanpa terasa sekitar jam 6.15 pagi, kami sampai di stasiun Yogyakarta. 

Agak berat waktu meninggalkan kota ini untuk pulang. Yogyakarta sudah memberikan kesan tersendiri untuk kami yang pertama kali berkunjung. Sayangnya libur kami sudah usai dan kami harus kembali ke Jakarta.

Nampaknya kereta pulang ini agak sedikit mulur dari jam keberangkatan. Yang seharusnya jam 7 Pagi, kereta kami malah berangkat jam 7.15 pagi. Lain halnya dengan berangkat, perjalanan pulang ini aku hanya sedikit tidur. Entah, mungkin belum rela kembali ke Jakarta dan masih ingin di Yogyakarta.

****

Setibanya kami di Stasiun Pasar Senen jam 16.00, satu jam mulur dari jadwal. Karena sempat tertahan di Stasiun Jatinegara dan tertahan di sinyal masuk Stasiun Pasar Senen.

Dengan cepat aplikasi Grab mencarikan driver untuk kami, dengan harga dua kali lipat dari normal hour kami pulang melalui jalan tol Sunter dan mengarah ke pintu keluar tol Rawa Bokor. Perjalanan kami ga  terlalu lama, karena Jakarta sore ini lancar dan ga ada macet sampai di depan rumahku.

Selesai merapihkan barang bawaan, tubuhku baru kerasa lelah setelah perjalanan tiga hari lalu. Dan selepas dari perjalanan ke Yogyakarta, tak hentinya aku menahan kantuk. Untung aja aku ambil cuti di hari senin, seenggaknya kan bisa aku gunakan untuk istirahat dan mencuci baju kotor (dasar emak-emak nggak betahan liat yang kotor =D).

Walaupun dua hari di perjalanan dan dua hari di kota Yogyakarta, hal itu sangat membuat aku tidak bisa lupa dan ingin kembali lagi ke kota itu suatu hari nanti. Benar kata orang, pasti ada saja alasan untuk kembali ke kota ini. Dan aku pun merasakan hal itu.

Semoga bermanfaat buat yang pertama kali ke Jogja ya, sampai jumpa kota penuh rindu :)

Selesai.


---ISMA---

Pertama Kali ke Yogyakarta (3)

07 Mei 2016

Sesuai dengan permintaan kemarin, si Mas supir kali ini datang lebih awal, yaitu 8.30 pagi.
Aku kalang kabut pastinya, karena hari ini kami semua kesiangan akibat kelelahan bepergian seharian kemarin.

Hari ini kegiatan kami adalah belanja oleh-oleh dan mengunjungi Keraton Yogyakarta dan Taman Sari.
Tempat pertama yang kami datangi adalah Pasar Beringharjo. Kami langsung berpencar mencari oleh-oleh masing-masing. Aku dan Harti langsung kalap belanja hahaha =D. Titipan banyak euy.

Sedangkan Mama dan Dede berbelanja di lantai atas yang tidak terlalu penuh seperti di lantai dasar. Setelah satu jam lebih kami berbelanja, kami menikmati es dawet di kawasan pasar tersebut. Jujur, aku rasa es dawetnya asli. Karena gulanya aja nggak terlalu manis, ga kayak di Jakarta yang justru manisnya malah bikin tenggorokan kerasa perih.

Selesai melepas dahaga, kami melanjutkan perjalanan menuju toko bakpia. Si Mas supir membawa kami ke kawasan penjualan Bakpia. Awalnya aku mendatangi kedai Bakpia Pathok 25, sayangnya stok bakpianya habis dan belum ada lagi. Oiya, harga satu kotak yang isi 15 dihargai Rp. 40.000 (ehm.. lumayan juga ya). Begitu mendengar salah satu pelayan menjawab harga bakpia, kami langsung berpindah ke toko bakpia lainnya.

Sayangnya toko yang kami tuju stok bakpianya juga sudah habis dan masih menunggu kurir yang mengantarkan. Sempat hopeless sebenarnya, tapi ada satu toko yang ukurannya tidak terlalu besar seperti toko bakpia lainnya. Namanya Bakpiaku varian rasanya menurutku cukup anak muda banget ya, karena ada Green Tea, Coklat, Keju, Kacang Ijo, Cappuccino dan lainnya.

Untuk ukuran pun ada juga yang isi 5 hanya dengan harga Rp.13.500 (seingatku ya), untuk isi 10 dikenakan harga Rp.22.000 dan untuk isi 20 dikenakan harga Rp. 40.000. Rasanya juga lumayan dan isinya lebih tebal dari kulitnya. Pokoknya kemasannya juga simple.


Image from Twitter.com/Bakpiaku



Selesai berbelanja, kami makan siang di sekitaran toko bakpia. Menunya adalah soto ayam. Aku kira soto ayam yang dijual sama seperti di Jakarta. Nasi dan mangkuk soto disajikan dalam wadah terpisah.Ternyata di sini soto dan nasi dicampur dalam satu wadah.

Aku ngeliatnya aja ga nafsu sebenarnya, cuma karena perutku sudah keroncongan dan terlanjur sudah memesan, ya sudahlah aku makan aja. Untuk rasa banyak yang kurang, kurang garam dan kurang kaldu. Akhirnya aku dan Dede menambahkan perkedel sebagai lauk tambahan, dan ternyata rasa perkedelnya asin! hahaha =D ga apa-apa lah ya, itung-itung mengisi kekurangan dari si soto ini.

*Dengan empat porsi soto plus nasi dan ditambah dua perkedel, biaya makan siang kami hanya Rp. 36.000.

Perjalanan berikutnya yaitu menuju Keraton Yogyakarta. Tapi sebelum memasuki Keraton, kami menuju Masjid Gedhe Kauman untuk melaksanakan kewajiban. Setelah menunggu Mama dan Dede selesai, kami langsung menuju loket masuk Keraton Yogyakarta.

harga tiket masuk per-orang baik dewasa maupun anak-anak dikenakan Rp. 5.000
Ketika tiket masuk kami diperiksa, ada seorang Tour Guide yang langsung menghampiri kami dan mengajak kami berkeliling. Sebenarnya aku enggan menggunakan Tour Guide, selain menjadi agak lama dan kami tidak leluasa, apalagi tanpa diminta si Guide ini langsung menghampiri kami. Keuntungannya memang kami jadi lebih tahu banyak apa-apa saja yang ada di dalam sana, termasuk diajak ke tempat pembuatan batik.

Selesai mengantarkan kami ke tempat pembuatan batik, kami akhirnya masuk ke sana lagi tanpa Guide tersebut.


abaikan wajah yang lagi nahan angin itu :p

Perjalanan selanjutnya yaitu menuju Taman Sari, sayangnya kami dibawa ke tempat yang aku rasa itu bagian lain Taman Sari. Kami hanya berjalan melewati lorong-lorong dan setelah aku simpulkan ruang bawah tanahnya sangat luas. Ditambah banyaknya pengunjung (kebanyakan anak muda) yang berfoto-foto, kami memutuskan untuk keluar.



Kebetulan ada acaranya anak-anak UGM di tempat seperti pagelaran seni dan ada banyak booth makanan di dalamnya. Sambil mengisi waktu hingga sore, kami menikmati jajanan yang tersedia di sana, aku, Harti dan Dede membeli Takoyaki dan Mama membeli wedang ronde.

Karena cuaca sepertinya makin mendung, aku memutuskan untuk pulang. Di perjalanan si Mama minta diantarkan ke toko yang menjual gudeg kaleng. Setelah sempat kesasar dan muter-muter, sampailah kami di Jalan Wijilan.

Rintik hujan menemani kami sepanjang jalan menuju hotel. Sesampainya di hotel kami beristirahat sejenak dan membereskan beberapa oleh-oleh supaya ga banyak barang bawaan.

Sekitar jam tujuh malam kami berjalan kaki keluar hotel untuk makan malam di Lesehan Aldan yang lokasinya berada di depan gang Hotel Bukit Uhud. Dengan menu :

- 3 ayam kampung
- 1 satu bakul nasi (3 porsi)
- Jamur Crispy
- 2 sambel korek
- 2 es teh manis
- 1 jus jambu
- 1 teh tawar hangat
menghabiskan kurang lebih sekitar Rp. 70.000

Pokoknya selama di sana menu ku nggak jauh dari ayam kampung. Mumpung sih hehe, karena di Jakarta cuma bisa makan ayam kampung kalau lagi kebeneran ke pasar sama si Mama. Oiya, dari rumah si Mama bawa sambal pedas cumi goreng asin lho. Katanya buat lauk sampingan kalau kami nggak cocok dengan makanan Jogja yang dikenal manis. Dan sejujurnya itu berguna banget buat aku dan Harti, karena kami ga suka makanan manis, bisa dibilang tanpa pedas kami ga bisa makan. Ditambah sarapan dari hotel yang sambalnya itu manis, makin ga bisa deh aku makan tanpa sambal pedas cumi asin itu.

Selesai makan malam, aku meminta penjaga hotel untuk mencarikan kami taksi esok pagi. Karena jadwal keberangkatan kereta kami jam 7 pagi.

Sambil melanjutkan membereskan barang bawaan dan menyiapkan hal lainnya esok pagi, kami menghabiskan malam terakhir dengan menikmati kamar hotel yang nyaman (malam terakhir coy =D).

---ISMA---

Senin, 13 Juni 2016

Pertama kali ke Yogyakarta (2)

06 Mei 2016

Sebelum ke Jogja aku menghubungi teman yang sedang kuliah di kota ini. Dia yang mencarikan  mobil beserta supir selama aku di Jogja. Namun sayangnya, dia memberi kabar kalau ga bisa ikut mengantarkan kami ke tempat-tempat wisata.

Sekitar jam sembilan pagi, aku sudah bolak-balik keluar kamar menuju gerbang. Tapi ga ada satu pun mobil yang terparkir di depan hotel. Sedangkan tamu-tamu lain mulai bepergian dari jam delapan pagi. huhu...

Sempat terjadi miskom sih, soalnya temanku ga kasih nomor teleponku ke supir. Jadi aku dan supir pun sama-sama kebingungan gimana untuk menghubungi.

Akhirnya sekitar jam 9.30 pagi jemputan kami datang, dengan supir yang-aku-lupa-tanya namanya siapa (maapkeun saya, Mas). Kami berangkat dari penginapan langsung menuju Candi Borobudur. Jarak dari Sidokabul ke Candi Borobudur menempuh waktu kurang lebih dua jam. Maklum, long week end, macet.

Setibanya di pintu masuk Candi Borobudur, si Harti langsung dihampiri Ibu-Ibu penjual topi yang harga topinya, ehmm........lumayan mahal. Seharga Rp. 50.000. (mahal kan, ya?) Karena cuaca yang sangat panas dan si Harti ga bisa tawar-menawar, jadi dia pasrah buat membeli topi dengan harga yang menurutku mahal itu. Untungnya aku dan Mama sudah sedia payung sebelum hujan =D

Antrian loket untuk warga lokal sangat panjang dan terbuka. Sedangkan loket Internasional berada di ruang tertutup dan nampaknya ada pendingin ruangan di dalamnya. Berbanding terbalik dengan loket lokal. Mungkin tujuannya memberikan pelayanan yang baik kali ya terhadap turis asing. hmm okelah...

*Harga tiket untuk dewasa Rp.30.000 sedangkan untuk anak-anak Rp.15.000

Sayangnya aku ga sempet mengambil gambar ketika menuju Candi. karena kelelahan dan kepanasan. Ditambah pengunjung domestik maupun mancanegara yang berfoto-foto di tangga.

Kemudian ketika tiba di tingkat pertama, kedua dan seterusnya, pengamanan diperketat dengan adanya petugas keamanan yang berjaga di setiap tempat di area candi. Hal ini bertujuan untuk memperingatkan pengunjung supaya ga duduk, menyentuh atau mendaki batu-batu di area candi.

Untuk berfoto-foto pun aku harus turun ke tangga kedua supaya tidak lama berdesak-desakan di puncak.


Tepat jam 12.30 kami turun untuk mencari makan. Pintu keluar Candi Borobudur ini mengarahkan kami dan pengunjung lainnya ke deretan penjual-penjual souvenir ataupun makanan seperti nasi pecel dan gudeg. Kemudian kami mampirlah pada salah satu warung nasi yang terdapat di area penjualan tersebut.

*Menu makan siang
Pecel satu porsi
Nasi gudeg + ayam kampung
Nasi + ayam kampung
Nasi + telor asin
Mie ayam
Es cendol
Es teh manis
Teh tawar hangat
Es kelapa. 
Semuanya menghabiskan Rp. 76.000.

Setelah dari Candi Borobudur kami sempat bingung ingin kemana lagi. Kami pikir disekitaran Candi Borobudur ada tempat wisata lainnya (selain Candi Mendut dan Candi Pawon). Tapi ternyata ga ada. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Candi Ratu Boko. Tetapi rencana langsung berubah ketika melihat jalur menuju Yogyakarta sangat macet, akhirnya kami belok kiri ke arah Solo (alternatif) menuju Candi Prambanan.


Sepanjang perjalanan aku ga tau kalau saat itu berada di daerah Sleman. Karena sepanjang perjalanan yang aku lihat hanya kebun salak dan beberapa pedagang salak pinggir jalan. Rasanya mau beli untuk oleh-oleh, tapi sayangnya hujan turun dan kami mengejar waktu untuk ke Candi Prambanan.

Setelah melewati jalan-jalan perkampungan dan persawahan, tibalah kami di Candi Prambanan. Sebenarnya ada cerita lucu ketika kami masuk kawasan Prambanan.

Begitu supir membuka kaca mobil, seorang pegawai pintu parkir masuk bertanya, "Dari Mandiri ya, Mas?" dengan muka datarnya si Mas supir, dia cuma jawab "Ho-oh".

Dari kejauhan memang terdapat acara dari Mandiri Finance di kawasan Candi, tapi ya namanya ga tau ya acara apa, si Mas langsung memakirkan mobil yang dituntun oleh laki-laki yang menggunakan name tag. Ternyata kami parkir di wilayah khusus tamu Mandiri. Ups! begitu keluar mobil aku dan lainnya langsung lari menuju Candi agar mobil kami tidak minta dipindah.

Dan aku baru sadar kalau kami menelusuri jalan yang salah, yaitu jalan pintu keluar pengunjung Candi Prambanan. Begitu hampir dekat dengan pintu keluar candi, aku menghampiri petugas keamanan untuk bertanya dimana pintu masuknya.

"Pak, pintu masuknya dimana ya?"
"........ Memang mbak dari mana?"
"Yang pasti bukan peserta acara Mandiri, Pak."
"Ya sudah silahkan masuk dari sana (menunjuk pintuk keluar Candi Prambanan)"
"Serius nih, Pak?"
"Iya, silahkan."
"Terima kasih, Pak."

Setelah petugas tersebut mengizinkan kami masuk, aku dan lainnya hanya tertawa begitu diperbolehkan. Apa karena si Mama pakai baju warna kuning kali ya? (karena di acara Mandiri tersebut seluruh pesertanya menggunakan baju warna kuning). Atau karena tadi aku pasang tampang memelas? Atau memang hari sudah sore, kah? Hahaha...  lumayan kan jadi masuk ke Prambanannya gratis tis tis =D

Di Candi Prambanan yang kami lakukan adalah foto-foto, berkeliling dan menikmati pemandangan senja yang sedikit mendung. Dan aku akui, aku lebih jatuh cinta dengan arsitektur Candi Prambanan. Caelah...

Sebelum pulang harus wefie dulu :D

Setelah puas berfoto-foto dan matahari sudah tenggelam, perjalanan selanjutnya yaitu menuju Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Begitu masuk bunderan Alun-Alun Kidul, jalanan langsung macet dan tidak bisa bergerak. Suasanan di sana sangat ramai dengan becak lampu yang cahayanya sangat menghiasi malam di Alun-Alun Kidul. Karena terlalu macet, mobil kami pun diparkir jauh dari kawasan Alun-Alun Kidul.

Sebelum mengelilingi kawasan Alun-Alun Kidul, kami mampir terlebih dahulu ke sebuah warung yang juga menyediakan tempat sholat dan toilet. Selesai mengerjakan kewajiban, aku langsung mencari becak lampu dan si pemilik langsung memberi harga Rp.100.000 untuk sekali putaran. Seriusan?! Aku malah baca-baca di beberapa blog harga sewa becak lampu adalah Rp.25.000-30.000, ga sampai Rp.100.000. Alasan si pemilik adalah karena macet. Sebagai orang yang irit, aku nggak mau dong kalau Rp.100.000 hanya untuk sekali putaran, mahal banget.

Akhirnya aku dan lainnya memutuskan untuk berjalan kaki mengelilingi kawasan tersebut. Tadinya kami mau menuju dua pohon beringin yang berada di tengah-tengah Alun-Alun Kidul, tapi karena siangnya hujan jadi terdapat banyak genangan di sana. Jadinya kami hanya berjalan di trotoar.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, karena si Mama sudah kelaparan, jadilah kami mencari Angkringan yang ga terlalu rame di kawasan tersebut. Dengan menu yang sama seperti malam sebelumnya, kami menghabiskan makan malam di Angkringan sebesar Rp. 74.000. Mahal banget ya? hhhh...

Dengan sedikit penyesalan karena harganya yang dua kali lipat itu kami memilih pulang ke hotel untuk beristirahat. Sesampainya di hotel, aku langsung membuat janji dengan Mas Supir untuk menjemput kami tepat jam 9 pagi esoknya.


---ISMA---